Dengan suara berat penuh kesedihan, sang ibu menjawab bahwa anaknya menangis karena kelaparan. Ia tidak memiliki makanan sedikit pun di rumahnya.
Lalu ia mengungkapkan sesuatu yang membuat Umar terdiam:
“Yang aku masak hanyalah batu. Aku ingin anakku mengira makanan sedang disiapkan, agar ia bisa tertidur sambil menunggu.”
Keluhan Seorang Ibu kepada Pemimpin
Di tengah kepedihan itu, sang ibu juga melontarkan keluhan:
“Celakalah Amirul Mu’minin Umar, yang membiarkan rakyatnya kelaparan.”
Kalimat itu menusuk hati Umar. Namun ia tidak membela diri, apalagi mengungkapkan identitasnya. Ia justru merasa bersalah.
Dalam perspektif kepemimpinan Islam, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Ahkam as-Sulthaniyyah karya Al-Mawardi, seorang pemimpin bertanggung jawab atas kesejahteraan rakyatnya, bahkan terhadap mereka yang paling lemah sekalipun.
Umar pun pergi, bukan untuk menghindar, tetapi untuk bertindak.
Karung Gandum di Punggung Seorang Khalifah
Tanpa menunda, Umar kembali ke pusat pemerintahan, menuju Baitul Mal. Ia mengambil sendiri sekarung gandum dan memikulnya di punggungnya.
Pengawalnya mencoba membantu. Namun Umar menolak.
“Apakah engkau akan memikul dosaku di hadapan Allah?” jawabnya tegas.