CARAPANDANG - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un untuk pertama kalinya membuka peluang perbaikan hubungan dengan Amerika Serikat, namun dengan syarat keras, dimana Washington harus mengakui status negaranya sebagai pemilik senjata nuklir.
Pernyataan tersebut disampaikan Kim dalam Kongres Kesembilan Partai Pekerja Korea yang baru saja berakhir di Pyongyang, sekaligus menandai arah baru strategi diplomasi Pyongyang yang semakin tegas.
Dalam laporan yang disiarkan kantor berita resmi KCNA, Kamis (26/2/2026), Kim menegaskan bahwa masa depan hubungan bilateral dengan AS sepenuhnya bergantung pada sikap Washington.
"Jika AS menghormati posisi negara (nuklir) kami saat ini, seperti ditetapkan dalam Konstitusi DPRK, dan menarik kebijakan permusuhannya terhadap DPRK, tak ada alasan bagi kami untuk tak dapat berhubungan baik dengan AS," kata Kim.
Namun di saat yang sama, Kim menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat persenjataan nuklir.
Ia menyebut status nuklir Korea Utara sebagai "irreversible" (tidak dapat dibatalkan) dan berencana menambah jumlah hulu ledak serta memperluas sarana operasional nuklir dalam lima tahun ke depan.
Rencana pengembangan mencakup rudal balistik antarbenua yang lebih canggih, baik yang diluncurkan dari darat maupun bawah air, serta sistem serangan berkecerdasan buatan dan senjata anti-satelit.