“Kita naik Eiger selama 13 hari, kita tidurnya gantung. Minumnya dari es yang meleleh, warnanya juga nggak cerah airnya tapi kita sikat aja,” kata Harry.
‘Batu Cari Nama’ dan Semangat Demi Merah Putih
Selain salju dan es, ancaman terbesar di Eiger adalah hujan batu yang terus menghantam jalur pendakian. Di kalangan pemanjat, kondisi tersebut dikenal dengan istilah “batu cari nama”.
“Ada istilah di sana, ada batu cari nama. Itu setiap jam ada batu jatuh dari atas. Begitu dia lewat kita nggak kena, wah bukan cari nama kita,” tutur Harry.
Menurut Harry, medan miring di Eiger justru lebih berbahaya dibanding dinding yang tegak lurus. Pendaki berada tepat di jalur jatuhnya batu sehingga risiko tertimpa jauh lebih besar.
Belum lagi bentuk Eiger yang melengkung membuat angin dingin membentuk lapisan es tipis di permukaan batu. Lapisan inilah yang sering menjadi penyebab kecelakaan. Tak heran jika gunung tersebut dijuluki Murder Wall.
“Eiger itu disebut Murder Wall, dinding kematian. Orang mereka yang menyebut, bukan kita. Semua kecelakaan terbesar ada di Eiger,” ujar Harry.
Meski mempertaruhkan nyawa, semangat membawa nama Indonesia membuat mereka terus melangkah hingga puncak. Mamay Salim mengatakan kekompakan tim dan rasa cinta kepada Tanah Air menjadi motivasi terbesar selama ekspedisi.
“Ada semangat satu kebersamaan di antara anggota tim, semangat demi negeri tercinta, demi Merah Putih, itulah yang memicu kita. Ya sudah, kita jalanin saja,” ujar Mamay.