CARAPANDANG - Rebusan daun salam (Syzygium polyanthum) semakin banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai minuman herbal tradisional. Sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan daun salam mengandung senyawa aktif yang berpotensi mendukung kesehatan metabolik, pencernaan, hingga sistem imun, meski para ahli menegaskan penggunaannya tetap bersifat pendukung dan bukan pengganti terapi medis.
Peneliti dari Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam beberapa publikasi ilmiah menyebut daun salam mengandung flavonoid, tanin, alkaloid, minyak atsiri, serta eugenol yang memiliki aktivitas antioksidan dan antiinflamasi.
Senyawa ini berperan menangkal radikal bebas yang dapat memicu kerusakan sel dan berbagai penyakit degeneratif.
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Ethnopharmacology dan International Journal of Pharmacy and Pharmaceutical Sciences melaporkan ekstrak daun salam memiliki efek penurunan kadar glukosa darah pada hewan uji.
Mekanisme yang diduga terjadi adalah peningkatan sensitivitas insulin serta penghambatan penyerapan glukosa di usus.
Selain itu, penelitian dari Universitas Airlangga menemukan kandungan flavonoid dan tanin dalam daun salam berpotensi membantu menurunkan kadar kolesterol total dan LDL (kolesterol jahat).
Efek tersebut dinilai dapat mendukung pencegahan risiko penyakit kardiovaskular jika dikonsumsi secara terkontrol dan dibarengi pola hidup sehat.