Meski bantal merupakan faktor penting, perannya tidak selalu seperti yang dibayangkan orang. Bantal yang terlalu tebal dapat mendorong kepala ke depan ke posisi fleksi. Sebaliknya, jika bantal terlalu tipis atau tidak digunakan sama sekali saat tidur, leher bisa jatuh ke posisi ekstensi.
Kedua kondisi ekstrem ini mengganggu lengkungan alami tulang belakang leher (servikal) dan meningkatkan ketegangan pada leher serta punggung atas sepanjang malam. Menurut dia, tidak ada ukuran bantal yang ideal untuk semua orang, melainkan perlu disesuaikan dengan kebutuhan tiap individu.
“Tujuannya bukan tidur tanpa bantal. Tujuannya adalah keselarasan netral. Kepala, leher, dan tulang belakang harus tetap berada dalam satu garis lurus yang didukung, baik saat tidur telentang maupun miring. Tidak ada satu bantal yang sempurna. Bantal yang tepat adalah yang menjaga leher tetap sejajar,” jelas Dr. Sood.
Lebih lanjut, Dr. Sood menekankan bahwa fokus pada kebiasaan sehat di siang hari lebih efektif, bukan hanya mengandalkan trik saat tidur untuk mengurangi punuk leher.
Adapun kebiasaan yang disarankan antara lain membatasi waktu melihat layar ke bawah, memperkuat otot punggung bagian atas, melakukan peregangan pada otot dada dan leher yang kaku, serta mengatur area kerja agar sejajar dengan pandangan mata.