Setelah salat, Yang pulang ke rumahnya dan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus pekerjaan rumah tangga, termasuk menyiapkan makanan untuk putra, menantu, dan cucunya, di samping waktu untuk berdoa, salat, dan melakukan hobi-hobinya, seperti kaligrafi Mandarin.
Masjid Nan'guan kembali ramai saat waktu berbuka puasa, sekitar pukul 19.15 waktu setempat (18.15 WIB). Pada saat cahaya lampu menerangi plakat bertuliskan "Semoga Keberuntungan dan Kebahagiaan dalam Ramadan" di depan pintu masuk masjid, umat Muslim setempat berbondong-bondong mendatangi masjid.
"Biasanya kami berbuka puasa dengan camilan, penganan, buah-buahan, kacang, serta air hangat, yang disediakan masjid," ujar Ma Jianbin.
Di depan pintu masuk Masjid Nan'guan, terdapat sebuah stan dengan papan bertuliskan "Nie Tie" atau "Sedekah" dalam bahasa Indonesia. "Sedekah ini biasanya kami gunakan untuk menyiapkan hidangan buka puasa dan kebutuhan sehari-hari lainnya di masjid," tutur Ma Jianbin.
Dalam sudut pandang Ma Jianbin, momen berkumpulnya umat Muslim juga menjadi kesempatan bagi teman dan tetangga untuk berbincang-bincang mengenai kehidupan mereka dan mungkin ada teman yang sedang menghadapi kesulitan.