Beranda Kolom Neo, Pilkada, dan Fiksi

Neo, Pilkada, dan Fiksi

0
Neo, Pilkada, dan Fiks

CARAPANDANG - Mujamin Jassin (Pendongeng)
 
Ejaan lengkap nama aku, Abbraham Raya Tyroneo. Tapi panggil saja aku Neo, tidak rumit secara harfiah kesastraan, neo bisa diperiksa dalam ‘bahasa ibu’ komunikasi kultural daerah Kabupaten Bima kuno hingga kini.

Sesuai pertalian silsilah dari Ayah dan Ibu, bisa saja nasib aku lahir di Kenagarian Desa Ngali, dataran tinggi yang dihuni para ksatria dan sarang para kyai. Tapi mata angin timur dari pulau sunda kecil, takdir Tuhan membawa aku dilahirkan di tanah partikelir Kota Batavia.

Lahir di 15 Januari, bukan ambisi aku mensejajarkan diri dengan sekaliber Osip Mandelstam, penyair dan penulis handal abad ke-20 yang puisinya berkontribusi besar untuk sastra Rusia.

Tak pernah terlintas rencana ingin menyamakan kalender dengan Gamal Abdel Nasser, pemimpin revolusi yang mendirikan kemerdekaan penuh bagi Mesir. Atau seperti Martin Luther King, Jr? Termasuk waktu yang sama, Inggris menobatkan Virgin Queen Elizabeth sebagai ratu yang menjadi penguasa monarki dari dinasti Tudor.

Tetapi benar aku lahir pada hari yang sama, mereka-mereka lahir. Rasa-rasanya bukan curiga, bisa jadi bahwa dari resensi manusia-manusia besar tersebut imajinasi nama aku terinspirasi. Sebab konon cerita ayah tidak serta-merta asal memungut nama seperti laku lazimnya. Bahwa perlu sedikitnya waktu 5 tahun merakitnya dengan penuh makna dan arti filosofis.

***

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here