POHUWATO, CARAPANDANG - Publik kembali digegerkan dengan beredarnya sebuah video di berbagai platform media sosial yang memperlihatkan tindakan penabrakan seorang Pengemudi ojek online (ojol) meninggal dunia setelah terlindas kendaraan taktis (rantis) Brimob. Peristiwa tersebut menuai kecaman luas, korban tak hanya menimbulkan luka fisik tetapi berujung kematian, hal ini mencoreng citra aparat penegak hukum yang seharusnya melindungi masyarakat.
Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pohuwato, Dandi Lasalutu, menilai tindakan itu sangat tidak manusiawi di tengah tuntutan profesionalisme aparat.
“Kejadian ini menambah daftar panjang kasus represif aparat yang seolah tak pernah belajar dari kesalahan. Alih-alih memberikan rasa aman, justru masyarakat dibuat trauma dan resah,” ujar Dandi saat dimintai tanggapan, Jumat (29/8).
Menurut Dandi, keberadaan Brimob maupun aparat keamanan lainnya mestinya menjadi benteng perlindungan masyarakat, bukan ancaman. Apalagi, di era keterbukaan informasi saat ini, setiap tindakan represif mudah tersebar luas dan membentuk opini negatif terhadap institusi kepolisian.
“Video yang beredar itu bukan hanya jadi tontonan, tetapi juga preseden buruk. Bagaimana masyarakat bisa percaya pada aparat, kalau perlakuan semacam ini masih terjadi?” tegasnya.