Perwakilan tim Armand Muhammad Abdullah menyatakan pengguna menerima informasi kondisi tanah dan rekomendasi tindakan perbaikan lahan.
“Petani sering mengambil keputusan tanpa data tanah yang akurat. SoilPIN memberi jawaban cepat di lapangan. Itu yang kami kejar,” jelasnya.
Direktur Pengembangan Ekosistem Digital Ditjen Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Sonny Sudaryana menyatakan ide SoilPIN tengah dihubungkan dengan kebutuhan publik melalui Garuda Spark Innovation Hub.
“Garuda Spark kami rancang agar inovasi tidak berhenti di lomba. Kami bantu agar solusi seperti SoilPIN bisa dipakai petani, diuji di lapangan, dan berkembang menjadi produk yang bermanfaat luas,” ujarnya.
Ia menambahkan pengembangan ekosistem menjadi kunci agar teknologi memberi dampak nyata.
“Kami ingin inovasi dipakai masyarakat. Ketika petani bisa menghemat biaya, meningkatkan hasil, dan menjaga tanahnya, di situlah teknologi bekerja untuk publik,” katanya.
Sebelum tampil di Bangkok, SoilPIN diuji coba di Bandung dan Jakarta.
Inovasi ini juga telah memperoleh perlindungan hak cipta dari Kementerian Hukum RI.
Capaian ini menunjukkan solusi publik bisa lahir dari talenta muda.
Dengan ekosistem yang tepat, teknologi sederhana berbasis AI dapat menjawab persoalan pangan dan lingkungan secara nyata. dilansir komdigi.go.id