"Kata pemerintah, sudah diberikan naik gaji 20 persen, tapi semua di lapangan naik 50 persen. Sama saja bohong. Buruh hanya dikasih permen saja, dikasih gula-gula saja," terangnya.
Ia mengibaratkan kondisi kehidupan buruh saat ini bagaikan zaman penjajahan.
"Kita seperti hidup di dalam negara VOC. Belum ada kepastian hidup di dalam Republik ini. Karena Undang-Undang Ketenagakerjaan belum disahkan, belum berpihak pada kaum buruh," cetusnya.
Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto juga menyoroti perayaan May Day di Monas. Menurutnya, ada sejarah perjuangan buruh yang terlupakan dalam perayaan yang cenderung berisi acara senang-senang tersebut.
Sebagaimana diketahui, usai perayaan May Day di Monas yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto, para buruh mendapatkan goodie bag bertuliskan Istana Kepresidenan Republik Indonesia. Bingkisan tersebut berisi paket sembako lengkap dan kebutuhan harian, mulai dari beras, gula, teh, kopi, mentega, hingga susu kental manis dan sarden.
Meski mengkritik pemerintah, PDIP sendiri turut membagikan sembako dalam rangkaian kegiatan May Day mereka di berbagai daerah. Di Kabupaten Malang, PDIP membagikan 3.000 paket sembako kepada buruh rokok, sementara di Surabaya PDIP membagikan bingkisan kepada 250 pengemudi ojek online (ojol) perempuan.