CARAPANDANG - Dinamika di kawasan Selat Hormuz kembali memanas di tengah upaya diplomatik Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara menggelar pembicaraan teknis di Doha, Qatar, pada Rabu (1/7), untuk membahas alur lalu lintas kapal dan gencatan senjata permanen, namun perbedaan mendasar masih menghambat kesepakatan final.
Pembicaraan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan interim 14 poin yang ditandatangani pada pertengahan Juni untuk menghentikan perang yang dimulai sejak Februari lalu dan membuka kembali jalur strategis tersebut.
Meskipun lalu lintas kapal mulai pulih, meningkat hampir 54 persen dalam sepekan terakhir, situasi di lapangan masih rapuh.
Ketegangan terbaru terjadi ketika media Iran melaporkan sebuah kapal kontainer asing kandas di perairan dangkal Selat Hormuz pada Rabu (1/7/2026).
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengklaim insiden ini disebabkan oleh kapal yang menggunakan rute tidak disetujui di sisi Oman, yang ditegaskan sebagai upaya menunjukkan klaim kontrol Iran atas selat.
Perebutan kendali menjadi titik buntu utama. Iran bertekad mendapatkan pengakuan internasional atas kontrolnya dan berencana memungut biaya transit setelah masa bebas 60 hari dalam kesepakatan interim berakhir pada pertengahan Agustus. Sementara itu, AS dan negara-negara Teluk menolak skema pungutan ini.