Industri furnitur, lanjut Reni, memiliki potensi ekspor yang harus terus dimaksimalkan. Berdasarkan data Trademap (HS 9401–9403), nilai ekspor industri furnitur Indonesia pada periode Januari–Desember 2025 tercatat sebesar USD 1,84 miliar. Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor utama dengan pangsa mencapai 53,3 persen dari total ekspor furnitur nasional. Sedangkan pada periode Triwulan I 2026 nilai ekspor industri furnitur tercatat sebesar USD 458,56 juta, menurun 12,1% dibanding periode yang sama di tahun 2025, dimana Amerika Serikat masih menjadi negara tujuan ekspor utama dengan pangsa pasar mencapai 54,97%.
Untuk memanfaatkan peluang tersebut, Indonesia menghadirkan enam pelaku industri yang mewakili beragam subsektor manufaktur khusus dengan potensi ekspor tinggi. Keenam perusahaan tersebut dipilih karena merepresentasikan kemampuan industri Indonesia dalam menggabungkan inovasi, teknologi, serta kekayaan budaya menjadi produk bernilai tambah. Peserta yang tampil meliputi CV Batik Teknologi Indonesia yang menampilkan batik dan mesin batik, PT Techno GIS Indonesia dengan layanan survei geospasial, PT Karya Solusi Angkasa yang menghadirkan teknologi drone, PT Nestra Kottama Indonesia dengan kopi specialty, PT Khadija Kriya Abadi melalui produk dekorasi rumah, serta Apikmen Tandangawe Sempurno yang membawa produk fesyen dan tekstil.