Di dalam kitab Al Fitan yang membahas huru-hara akhir zaman ini, terdapat atsar dan riwayat yang secara spesifik mengaitkan bulan Ramadhan dengan tanda-tanda besar. Mari kita renungkan riwayat dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi SAW bersabda:
إِذَا كَانَتْ صَيْحَةٌ فِي رَمَضَانَ فَإِنَّهُ يَكُونُ مَعْمَعَةٌ فِي شَوَّالٍ، وَتَمْيِيْزُ الْقَبَائِلِ فِي ذِيِ الْقَعْدَةِ، وَتُسْفَكُ الدِّمَاءُ فِي ذِيِ الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمِ… هَدَّةٌ فِي النِّصْفِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ جُمُعَةٍ، فَتَكُونُ هَدَّةٌ تُوقِظُ النَّائِمَ، وَتُقْعِدُ الْقَائِمَ، وَتُخْرِجُ الْعَوَاتِقَ مِنْ خُدُوْرِهِنَّ
“Apabila terjadi suara keras di bulan Ramadhan, maka akan terjadi kekacauan di bulan Syawal, perselisihan antar suku di bulan Dzulqa’dah, dan pertumpahan darah di bulan Dzulhijjah dan Muharram… yaitu suara ledakan (goncangan) di pertengahan bulan Ramadhan pada malam Jum’at. Suara itu membangunkan orang yang tidur, mendudukkan orang yang sedang berdiri, dan mengeluarkan para gadis dari pingitannya.” (Al-Fitan No. 638).
Bayangkan, seorang ulama besar menanti dengan penuh kewaspadaan selama puluhan tahun. Mengapa? Karena mereka memahami bahwa iman tanpa persiapan adalah kelemahan. Mereka tidak hanya menunggu tanda, tapi mereka bersiap dengan bekal. Abdurrahman bin Jubair menjelaskan tanda di langit berupa perselisihan manusia, lalu ia berpesan:
فَإِنْ أَدْرَكْتَهَا فَأَكْثِرْ مِنَ الطَّعَامِ مَا اسْتَطَعْتَ