CARAPANDANG - Sejumlah negara Asia mulai merasakan dampak ekonomi dari meningkatnya serangan udara Amerika Serikat, Israel, dan Iran, ketika kapal-kapal tanker minyak masih tertahan di sekitar Selat Hormuz, salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Beberapa operator pelayaran menghentikan transit melalui selat tersebut di tengah melonjaknya biaya asuransi dan meningkatnya kekhawatiran keamanan.
China pada Senin menyebut jalur perairan itu sebagai “rute perdagangan internasional yang penting” dan mendesak penghentian segera operasi militer.
Menjawab pertanyaan koresponden Anadolu Agency, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning mengatakan stabilitas di selat dan perairan sekitarnya sangat penting bagi perdagangan global serta menyerukan langkah-langkah untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Media Iran pada Sabtu melaporkan bahwa Selat Hormuz telah “secara efektif” ditutup menyusul serangan AS-Israel, meski belum ada pengumuman resmi mengenai blokade formal.
Lebih dari 40 kapal yang terkait dengan Jepang, termasuk kapal tanker minyak, saat ini tertahan di Teluk Persia, lapor Kyodo News. Setidaknya tiga kapal telah menghentikan upaya untuk melintasi selat tersebut.
Jepang mengimpor sekitar 95 persen minyak mentahnya dari Timur Tengah, yang sebagian besar melewati jalur perairan sempit itu.