Namun, perlu diketahui bahwa dampak utama dari serangan DDoS adalah terganggunya layanan (service disruption), bukan pencurian data. Kebocoran data pribadi umumnya terjadi melalui bentuk serangan siber lain atau melalui serangan gabungan (multivector attack).
Peretas kerap menjadikan DDoS sebagai pengalih perhatian (smokescreen). Ketika tim keamanan TI suatu perusahaan sedang sibuk dan kewalahan mengatasi kelumpuhan server akibat DDoS, peretas memanfaatkan celah kelengahan tersebut untuk menyusup ke dalam sistem dan mencuri basis data pengguna, seperti informasi identitas atau data finansial, secara diam-diam.
Celah Keamanan yang Kerap Diabaikan
Selain ancaman DDoS terhadap organisasi, masyarakat juga perlu mewaspadai berbagai bentuk kejahatan siber lainnya dalam aktivitas digital sehari-hari. Menurut Dicky, kerentanan kita terhadap serangan siber sering kali berawal dari kebiasaan mengabaikan hal-hal yang terkesan sepele. Celah ini terbuka ketika pengguna mengeklik tautan yang mencurigakan, memakai kata sandi yang lemah, atau berselancar menggunakan jaringan yang tidak aman. Kesalahan tersebut dapat memberikan peluang bagi peretas untuk mencuri data atau mengambil alih akun.