Ketika dalam perjalanan imam Al-Ghazali dan teman-temannya di hadang oleh sekumpulan bandit. Mereka mengambil barang-barang Al-Ghazali beserta buku Pelajaran dan catatan ilmu yang telah ditempuhnya. Sadar akan hal itu, imam Al-Ghazali membuntuti bandit tersebut untuk setidaknya mengembalikan bukunya.
Namun tak disangka bandit tersebut justru mengatakan “kau mengaku memiliki wawasan, tetapi sebaliknya ketika ku ambil bukumu seharusnya belajarlah dengan hati bukan buku” kemudian bandit tersebut mengembalikan bukunya.
Imam Al-Ghazali menganggap perkataan bandit tersebut sebagai teguran dari Allah, tiga tahun setelahnya imam Al-Ghazali mampu menghafal semua buku dan catatannya. Memiliki jiwa yang haus akan ilmu, imam Al-Ghazali kembali berkelana ke Naisabur dan berguru pada imam Haramain al-Juwaini, sosok cendekiawan ilmu kalam tersohor pada masa itu.
Al-Ghazali dengan tekum mempelajari ilmu fikih, Aqidah, ilmu logika, ilmu kebikjasanaan, dan ilmu filsafat. Berkat ketekunannya Al-Ghazali mampu menguasai ilmu yang dipelajarinya, hingga sang guru pun memuji bahwa “Al-Ghazali adalah lautan yang tak berdasar”.
Di Baghdad imam Al-Ghazali menjadi seorang pengajar dan mempelajari bahasa Yunani. Pada saat itu pula Al-Ghazali mulai mengajar filsafat dan mempelajari ideologi Dinasti Fatimiyah.