MPLS Ramah 2026: Mengembalikan Sekolah sebagai Rumah Kedua Anak

MPLS harus menjadi ruang menumbuhkan harapan, bukan ketakutan; membangun persaudaraan, bukan senioritas; serta menghadirkan kegembiraan, bukan tekanan.

Aturan Tidak Bisa Tunduk pada Kekuasaan Hegemonik

Romelu Lukaku (pertama dari kiri) dari Belgia mencetak gol melalui sebuah tendangan dalam pertandingan babak 16 besar antara Amerika Serikat (AS) melawan Belgia di ajang Piala Dunia FIFA 2026 di Seattle Stadium di Seattle, AS, pada 6 Juli 2026. (Carapandang/Xinhua/Xu Chang)

Di Meksiko, Penggemar Sepak Bola Ubah Air Mata Jadi Nyanyian

Seorang pendukung timnas Meksiko meneteskan air mata setelah pertandingan babak 16 besar antara Meksiko melawan Inggris di ajang Piala Dunia FIFA 2026 di Mexico City Stadium, Meksiko, pada 5 Juli 2026. (Carapandang/Xinhua/Li Muzi)

Respons Insiden Tragis Satwa Langka, Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Laksanakan Muhammadiyah Green Movement di Lampung

Insiden tragis yang menimpa tapir di Lampung menjadi alarm keras bahwa konflik antara manusia dan satwa liar berada di titik kritis.

Dua Gempa Dahsyat Guncang Venezuela, 32 Tewas dan Lebih dari 700 Luka-Luka

Warga berkumpul untuk berlindung setelah gempa bumi di Alun-Alun Altamira, Kota Chacao, Negara Bagian Miranda, Venezuela, pada 24 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Marcos Salgado)

Memulai Hari Tanpa Gorengan, Makanan Kukus-Rebus Kian Diminati

Foto menunjukkan lapak makanan kukus dan rebus yang ada di sebuah stasiun kereta rel listrik (KRL) di Jakarta pada 19 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Ferdi)

Toko Suvenir Diaspora Indonesia di Tokyo Jadi Ruang Temu Wisatawan Tanah Air

Foto ini menunjukkan sebuah toko suvenir milik diaspora Indonesia di kawasan Akihabara di Tokyo, Jepang, pada 17 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Indalia Jayadinata)

Mengupas Fenomena Sosial pada Gelaran Piala Dunia 2026

Para penampil unjuk gigi dalam upacara pembukaan Piala Dunia FIFA 2026 di Estadio Azteca, Mexico City, Meksiko, pada 11 Juni 2026. (Carapandang/Xinhua/Li Muzi)

Dari Aspirasi ke Aksi: Mengapa Suara Kelompok Marginal Perlu Didengar Oleh Negara?

Aksi mahasiswa dan kelompok masyarakat pada hari ini tidak hanya dapat dibaca sebagai bentuk protes terhadap kebijakan publik.