Kritik tersebut menyinggung isu klasik yang sudah lama ada di Jepang. Data dari Kantor Kabinet Jepang, yang mengutip angka Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) yang diterbitkan pada 2021, menunjukkan bahwa perempuan menghabiskan waktu 5,5 kali lebih lama daripada laki-laki untuk pekerjaan tak berbayar, termasuk pekerjaan rumah tangga, berbelanja, dan perawatan.
Disparitas tersebut lebih besar dibandingkan di Inggris, Prancis, dan Amerika Serikat (AS), di mana selisih antara laki-laki dan perempuan jauh lebih kecil.
Pembahasan itu semakin ramai diperbincangkan karena citra stadion yang bersih tidak selalu sejalan dengan aspek lainnya dalam kehidupan sehari-hari. Di beberapa distrik hiburan, puntung rokok kerap terlihat berserakan di luar bar dan restoran setelah malam yang sibuk.
Bagi para pendukung aksi bersih-bersih, praktik tersebut merefleksikan kebiasaan yang telah terbentuk sejak masa kanak-kanak, alih-alih sekadar keinginan untuk mendapatkan pengakuan publik.
Koichi Nakano, seorang profesor ilmu politik dan sejarah di Universitas Sophia, menyebutkan bahwa para penggemar olahraga Jepang di ajang-ajang internasional sering kali berperilaku seperti halnya ketika mereka pertama kali belajar olahraga di sekolah.