Beranda Internasional Asia Genjot Penggunaan Batu Bara di Tengah Krisis Energi Akibat Perang Iran

Asia Genjot Penggunaan Batu Bara di Tengah Krisis Energi Akibat Perang Iran

Korea Selatan menunda penghentian operasi pembangkit listrik tenaga batu bara, sementara Filipina juga berencana meningkatkan produksi pembangkit listrik berbahan bakar batu bara mereka.

0
Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara di Tuticorin, India. (Foto: Prashanth Vishwanathan/Bloomberg/Getty Images/The Guardians)

Berdasarkan laporan terbaru, masa operasi dua pembangkit pertama kemungkinan akan diperpanjang hingga Maret tahun depan.

Filipina juga mengambil langkah serupa. Menteri Energi Filipina Sharon Garin menyatakan bahwa negaranya akan sementara meningkatkan produksi pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menjaga agar biaya listrik tetap terkendali akibat melonjaknya harga LNG.

Langkah ini disebut sebagai "tindakan sementara" yang dapat mulai diterapkan paling cepat pada 1 April 2026. Filipina, yang memiliki 116 juta penduduk dengan biaya energi tertinggi di kawasan, saat ini bergantung pada batu bara untuk sekitar 60 persen pembangkit listriknya.

Pemerintah Filipina telah berkoordinasi dengan perusahaan pembangkit untuk mengetahui seberapa besar mereka dapat meningkatkan produksi.

Sementara itu, Indonesia juga disebut melakukan perburuan sumber energi alternatif. Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan ke Jepang pekan ini untuk membahas kerja sama energi, termasuk proyek-proyek minyak dan gas jangka panjang serta pembangkit listrik tenaga panas bumi.

Dalam kesepakatan yang ditandatangani, Indonesia akan meningkatkan pasokan LNG ke Tokyo sebagai imbalan mendapatkan LPG yang penting untuk bahan bakar memasak.

Henning Gloystein, Managing Director Energy and Resources di Eurasia Group, mengungkapkan bahwa hampir 30 miliar meter kubik LNG telah hilang dari rantai pasokan global, dengan lebih dari 80 persennya hilang di kawasan Indo-Pasifik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here