“Literasi dan numerasi bukan sekadar kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, keduanya menjadi fondasi penting dalam membangun kemampuan berpikir kritis, bernalar, berkomunikasi, serta memecahkan masalah yang dibutuhkan peserta didik di masa depan,” ujar Nalfira.
Ia menjelaskan, Kelas BerNALAR dirancang untuk membangun budaya belajar yang mendorong peserta didik aktif berpikir, memahami informasi secara kritis, dan mampu mengaitkan materi pelajaran dengan kehidupan sehari-hari.
Salah satu implementasi program tersebut adalah pembiasaan “15 Menit BerNALAR” sebelum pembelajaran dimulai. Dalam kegiatan itu, siswa diajak membaca, memahami, menganalisis, berdiskusi, hingga menghubungkan materi dengan situasi nyata di lingkungan mereka.
“Program ini diharapkan mampu menciptakan budaya belajar yang lebih kuat di lingkungan sekolah sekaligus meningkatkan kualitas hasil belajar peserta didik secara berkelanjutan,” tambahnya.
Nalfira menegaskan, keberhasilan Kelas BerNALAR sangat bergantung pada peran guru sebagai ujung tombak transformasi pendidikan. Karena itu, workshop tersebut dirancang untuk memperkuat kapasitas guru dalam mengembangkan pembelajaran literasi dan numerasi yang kontekstual, menyusun modul dan asesmen yang berkualitas, serta memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara bijak.