Dia pun mengungkap sebuah rahasia keluarga yang berkaitan dengan qiaopi, yaitu surat-surat dan remitansi yang dikirimkan oleh warga perantauan ke kampung halaman mereka.
Huang Ping, ketua eksekutif London Chinatown Chinese Association, mengatakan saat penayangan perdana film tersebut bahwa tema kasih sayang keluarga, kerinduan akan kampung halaman, dan kebersamaan dalam film itu sangat familier bagi banyak warga China yang tinggal di luar negeri.
"Berbagai perasaan terhadap keluarga dan tanah air yang disampaikan oleh film itu mampu melampaui batasan waktu serta jarak, dan film ini juga merefleksikan nilai-nilai China dalam menghargai ikatan personal," ujarnya.
Antara abad ke-19 dan awal abad ke-20, jutaan warga China meninggalkan wilayah pesisir selatan negara tersebut menuju Asia Tenggara, dalam sebuah fenomena yang kini disebut oleh para sejarawan sebagai migrasi Nanyang.
Banyak di antara mereka akhirnya menetap di Singapura, Malaysia, Indonesia, dan wilayah lain di kawasan tersebut, sehingga menjadi bagian dari komunitas Tionghoa perantauan saat ini.
Aktor Zheng Runqi, yang berbicara kepada audiens melalui tautan video, menuturkan bahwa banyak orang dari daerah Chaoshan, bersama warga Tionghoa perantauan lainnya, telah menetap di Asia Tenggara dan Eropa.