CARAPANDANG -
Ribuan pemukim Israel, yang didampingi sejumlah menteri pemerintah Israel dan dilindungi pengawalan ketat pihak kepolisian, pada Kamis (23/7) beramai-ramai menerobos masuk ke kompleks Masjid Al-Aqsa di Kota Tua Yerusalem Timur yang diduduki, memicu kecaman luas dari seluruh kawasan Timur Tengah.
Kepresidenan Palestina mengecam tindakan tersebut sebagai "pelanggaran dan eskalasi yang berbahaya" serta "pelanggaran terang-terangan terhadap status quo historis dan legal," seraya memperingatkan bahwa hal itu mencerminkan kebijakan sistematis untuk memaksakan realitas baru dan upaya membagi masjid tersebut "berdasarkan waktu dan ruang."
Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan oleh kantor berita Palestina, WAFA, kepresidenan Palestina menekankan bahwa Israel tidak memiliki kedaulatan atas Yerusalem dan situs-situs suci di sana. Kepresidenan Palestina juga menyerukan kepada masyarakat internasional untuk memaksa Israel menghentikan semua pelanggaran di wilayah Palestina.
Sekretaris Jenderal Liga Arab Nabil Fahmy dengan tegas mengecam tindakan tersebut, dengan mengatakan bahwa aksi menggeruduk kompleks itu telah meningkat signifikan dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan apa yang dia gambarkan sebagai rencana yang sedang dilaksanakan untuk memberlakukan pembagian waktu dan ruang di situs suci itu.