Ia menambahkan bahwa EKKA diharapkan mampu melahirkan generasi problem solver, innovator, researcher, dan kecerdasan artifisial builder yang dapat memberikan solusi terhadap berbagai tantangan di masyarakat, mulai dari bidang pendidikan, pertanian, kesehatan, lingkungan, disabilitas, Usaha Kecil, Mikro, dan Menengah (UMKM) hingga pelayanan publik.
Menurut Muchlas, penerapan prinsip kecerdasan artifisial yang bertanggung jawab juga menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan EKKA. “Kecerdasan artifisial terbaik adalah kecerdasan artifisial yang membantu kemanusiaan. Karena itu, kecerdasan artifisial yang dikembangkan harus aman, transparan, adil, dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Kepala Pusat Prestasi Nasional, Maria Veronica Irene Herdjiono, mengatakan bahwa kebutuhan terhadap kompetensi kecerdasan artifisial semakin penting di berbagai bidang kehidupan. Oleh sebab itu, Puspresnas kembali menyelenggarakan EKKA pada 2026 ini dengan pelaksanaan sosialisasi yang dilakukan lebih awal agar sekolah dan murid memiliki waktu persiapan yang lebih baik.
“Pada tahun lalu, Indonesia juga telah mengirimkan peserta ke ajang International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI). Tahun ini, ekshibisi kecerdasan artifisial juga diperluas pada ajang LKS Dikmen sebagai upaya memperkuat ekosistem pembinaan talenta kecerdasan artifisial nasional,” ujar Irene.