CARAPANDANG - Presiden RI Prabowo Subianto menyinggung istilah “Londo Ireng” saat berpidato dalam Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB di Jakarta, Kamis (23/7). Dalam pidatonya, Prabowo menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan pihak-pihak yang menurutnya tidak berpihak pada kepentingan bangsa.
“Londo-Londo Ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain, kan? Wartawan, jurnalis apa itu? pengamat, LSM. LSM harus kita tanya, yang gaji lo siapa? Yang bayar listrikmu siapa? Yang bayar handphonemu siapa?” kata Prabowo.
Pernyataan itu kembali membuat istilah Londo Ireng menjadi perbincangan publik. Banyak orang kemudian bertanya, apa sebenarnya arti Londo Ireng dalam sejarah Indonesia? Istilah tersebut ternyata memiliki akar sejarah yang panjang dan berbeda dengan penggunaan sebagai kiasan dalam percakapan modern.
Dalam catatan sejarah kolonial, Londo Ireng merupakan sebutan bagi tentara asal Afrika Barat yang direkrut pemerintah Hindia Belanda untuk memperkuat pasukannya setelah Perang Diponegoro.
Perang Diponegoro Menguras Kekuatan Belanda
Awal mula kemunculan Londo Ireng tidak bisa dilepaskan dari Perang Diponegoro atau Perang Jawa (1825–1830). Perang yang dipimpin Pangeran Diponegoro ini menjadi salah satu konflik terbesar yang pernah dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Nusantara.