Beranda Edukasi Lulusan SMK Lebih Relevan, Lebih dari 1.000 Ruang Praktik Siswa Telah Direvitalisasi

Lulusan SMK Lebih Relevan, Lebih dari 1.000 Ruang Praktik Siswa Telah Direvitalisasi

Dirjen Tatang menyebut bahwa dampak revitalisasi dalam membangun ekosistem dan transformasi pendidikan vokasi di Indonesia mulai dirasakan saat ini.

0
Istimewa

Menurut Dirjen Tatang, selain keterbatasan daya tampung, masih banyak SMK belum memiliki RPS yang memadai. Padahal, RPS  penting untuk mendukung pembelajaran vokasional yang optimal melalui project based learning (PBL) atau pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran berbasis industri (teaching factory) yang  menjadi  salah satu kekhasan pembelajaran di SMK. 
 
“Kalau kekurangan ruang belajar di SMK masih bisa diatasi karena setiap tahunnya, anak kelas dua belas melakukan PKL (Praktik Kerja Lapangan). Jadi, ruangan kelas bisa bergantian. Namun, untuk ruang praktik siswa, masih ada sekitar 60 persen SMK yang belum memiliki ruang praktik yang memadai,” kata Dirjen Tatang.
 
Oleh karena itu, program Revitalisasi Satuan Pendidikan dengan pembangunan RPS ini secara perlahan mulai dapat mengatasi kendala keterbatasan ruang praktik tersebut.
 
“Ruang praktik siswa yang memadai sangat penting, baik di SMK, SLB, maupun PKBM. Di SMK, ruang praktik ini bisa menjadi area pembelajaran bagi siswa sehingga mereka bisa mengetahui tujuan dan capaian dari pembelajaran yang mereka lakukan,” kata Dirjen Tatang.
 
Selama 2025 Kemendikdasmen telah merevitalisasi 1.465 SMK. Total sarana dan prasarana yang telah dibangun mencapai 7.586 unit, yang meliputi ruang kelas, ruang praktik siswa, perpustakaan, hingga sarana prasarana pendukung lainnya, seperti toilet, ruang guru, dan sebagainya.
 
Dari jumlah tersebut, 1.008 di antaranya merupakan ruang praktik siswa yang mencakup sekitar 75 program keahlian, seperti RPS Teknik Sepeda Motor, Teknik Kendaraan Ringan, dan sebagainya.
 
“Tentu, ruang praktik ini tidak akan sama persis dengan industri. Akan tetapi, ketika murid sudah menguasai dasar-dasar ilmu di ruang praktik ini, mereka akan lebih mudah saat beradaptasi di industri,” tambahnya.
 
Sementara itu, Kepala SMKN 5 Kabupaten Tangerang, Surta Wijaya, merasakan dampak nyata revitalisasi bagi peningkatan keterampilan vokasional para muridnya. Sebelum revitalisasi, sekolahnya tidak memiliki ruang praktik yang memadai. Bahkan, sekolah terpaksa mengubah perpustakaan menjadi ruang praktik siswa untuk para murid. 
 
“Sebelum revitalisasi, praktik siswa sering terkendala keterbatasan ruang dan fasilitas,” kata Surta.
 
Menurut Surta, pada dasarnya murid-murid di sekolahnya memiliki semangat dan potensi besar. Akan tetapi, lingkungan belajar dirasa belum sepenuhnya mampu menghadirkan suasana kerja industri yang sesungguhnya. 
 
“Saat ini, siswa kami menjadi lebih antusias untuk belajar. Mereka merasa dihargai, dipercaya, dan dipersiapkan untuk menjadi tenaga profesional menengah dengan ruang praktik siswa yang memadai,” kata Surta.
 
Di SMKN 5 Kabupaten Tangerang, program Revitalisasi Satuan Pendidikan menghadirkan ruang praktik siswa untuk Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Sepeda Motor, serta rehabilitasi 42 ruang kelas.
 
“Kami merasa yang berubah bukan hanya gedungnya, tetapi juga masa depan anak-anak kami terasa menjadi lebih nyata,” tambah Surta Wijaya.
 
Sementara itu, Kepala SMKN 5 Manokwari, Choiruddin, mengatakan bahwa sekolahnya menerima revitalisasi berupa pembangunan dan perbaikan tiga ruang kelas Teknik Konstruksi dan Properti (TKP), empat ruang kelas Teknik Komputer dan Jaringan, empat ruang kelas Teknik Kendaraan Ringan, ruang praktik siswa (RPS) TKP beserta perabot, dan perpustakaan beserta perabot.
 
“Sekolah kami saat ini tidak hanya memiliki ruang praktik untuk siswa yang representatif, tetapi juga memiliki perpustakaan yang menjadi sumber belajar dan pusat aktivitas para siswa,” kata Choiruddin. (Kemendikdasmen.go.id)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here