Lahir pada 2001 di Pontianak, kota multibudaya di Provinsi Kalimantan Barat, dia tumbuh besar di tengah keberagaman kelompok etnis dan budaya. Rasa ingin tahu Veldesen terhadap akar budaya Tionghoanya telah mendorong dirinya untuk mulai mempelajari bahasa Mandarin sejak dini.
Pada 2017, dia bertolak ke China untuk mempelajari bahasa Mandarin sekaligus memperoleh pemahaman yang lebih dalam mengenai budaya negara tersebut. Terpukau oleh kekayaan sejarah dan pesatnya pembangunan di China, Veldesen lantas melanjutkan pendidikan di Universitas Tsinghua, tempat dirinya mempelajari desain lingkungan sebelum melanjutkan program magister di bidang arsitektur.
Foto yang diabadikan pada 16 Juli 2026 ini menunjukkan Veldesen Yaputra, mahasiswa asal Indonesia, sedang mengunjungi sebuah menara kuno yang terletak di Yuci, Provinsi Shanxi, China utara. (Carapandang/Xinhua)
Studinya tersebut mengarahkannya untuk fokus pada arsitektur tradisional, revitalisasi pedesaan, dan pelestarian warisan budaya.
"China telah mengajarkan saya bahwa konservasi warisan budaya tidak sekadar tentang melestarikan bangunan tua," ungkapnya. "Melainkan juga tentang merawat budaya, sejarah, dan vitalitas masyarakat."
Selama kunjungannya ke Shanxi, yang kerap dijuluki sebagai "gudang harta karun arsitektur kuno China," Veldesen mengaku sangat terkesan dengan kekayaan situs bersejarah di provinsi itu dan berbagai upaya untuk melindunginya.