Akibatnya, WHO sejak 5 Desember 2025 telah mengklasifikasikan BA.3.2 sebagai Variant Under Monitoring (VUM) atau Varian dalam Pemantauan.
Para ahli meyakini bahwa cara penularan varian Cicada tidak berbeda dengan varian Covid-19 sebelumnya, terutama melalui droplet dan aerosol pernapasan.
"Virus ini masih menyebar melalui percikan air liur dan partikel kecil di udara saat seseorang yang terinfeksi batuk, bersin, atau berbicara," demikian dijelaskan dalam sejumlah literatur kesehatan.
Meskipun metode penularannya sama, kemampuan Cicada untuk menular lebih tinggi karena satu keistimewaan utamanya, yaitu 'imunitas siluman'.
Varian ini sangat mahir dalam menghindari sistem kekebalan yang sudah terbentuk dari vaksinasi lama atau infeksi varian sebelumnya.
"Varian ini tidak lebih mematikan, tetapi lebih 'licin' secara imunologis," jelas epidemiolog Dicky Budiman, dikutip dari Katadata.
Para ahli menambahkan bahwa meskipun mahir menghindari antibodi, mutasi yang terjadi justru membuat virus ini sedikit kurang efisien dalam mengikat sel manusia, sehingga menjelaskan mengapa penyebarannya tidak seagresif varian Delta atau Omicron awal, meski tetap signifikan.
Antisipasi dan Pencegahan
Hingga saat ini, varian Cicada belum terdeteksi di Indonesia. Namun, para ahli meminta publik untuk tidak lengah . Berikut adalah langkah antisipasi yang direkomendasikan oleh otoritas kesehatan dan pakar:
1. Vaksinasi Tetap Kunci Utama