Dalam setiap konflik, teknologi harus tetap mempertahankan rantai tanggung jawab sehingga akuntabilitas tidak dapat dialihkan kepada mesin.
Selain aspek militer, ensiklik ini juga menyoroti konsentrasi kekuasaan di kalangan segelintir elit teknologi. Paus mengingatkan bahwa AI yang lebih bermoral saja tidak cukup jika moralitas itu ditentukan oleh segelintir orang.
Oleh karena itu, ia menyerukan perlunya keterlibatan politik yang lebih aktif dan kerangka etis yang berlandaskan prinsip-prinsip keadilan sosial.
Paus Leo sengaja memilih tanggal 15 Mei 2026—tepat 135 tahun setelah ensiklik "Rerum Novarum" Paus Leo XIII tentang Revolusi Industri—untuk menandatangani dokumen ini.
Ia memandang revolusi digital saat ini memiliki magnitudo transformasi yang sebanding dengan pergolakan industri di abad ke-19.
Menanggapi terbitnya ensiklik tersebut, Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance yang beragama Katolik menyambut baik seruan Paus.
"Apa yang saya baca terdengar sangat mendalam dan itu merupakan hal yang memang diharapkan dari seorang pemimpin gereja," ujar Vance dalam wawancara dengan NBC News.
Para uskup di Amerika Serikat dan Meksiko juga memuji dokumen ini sebagai panduan yang jelas di era AI.
Uskup Agung Oklahoma City, Mgr. Paul S. Coakley, menyebutnya sebagai pengingat yang kuat bahwa tidak ada teknologi yang dapat menggantikan Tuhan.