Sugiono menjelaskan bahwa agenda tersebut sejalan dengan prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang sejak awal menempatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai fondasi penting bagi kedaulatan dan ketahanan nasional.
Pemerintah Indonesia pun terus mempercepat berbagai program strategis untuk mendukung tujuan tersebut.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa dalam forum tersebut para pemimpin ASEAN juga menyepakati sejumlah hasil konkret atau deliverables sebagai langkah memperkuat ketahanan kawasan.
Beberapa di antaranya ialah ASEAN Petroleum Security Agreement serta APTERR (ASEAN Plus Three Emergency Rice Reserve) yang menjadi bagian penting dari kerja sama regional di sektor energi dan pangan.
Selain itu, dinamika global saat ini menunjukkan bahwa konflik yang terjadi di suatu kawasan dapat dengan cepat berdampak pada negara-negara lain, termasuk di Asia Tenggara.
"Karena kita sadari bersama sesuatu ataupun perang yang terjadi di sebuah kawasan yang jauh dari kita dengan cepat akan langsung berimbas pada perikehidupan masyarakat di kawasan kita. Dan inilah yang dirasakan oleh seluruh negara-negara ASEAN," imbuh Sugiono.