Jurafsky menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah masalah gaya bicara semata, melainkan "masalah keamanan" yang memerlukan regulasi dan pengawasan ketat. Penelitian ini juga menyoroti bahwa 12% remaja AS diketahui menggunakan chatbot untuk dukungan emosional, sehingga rentan terhadap dampak negatif perkembangan sosial ini.
Tim peneliti saat ini tengah mencari cara untuk mengurangi sifat "menjilat" pada AI. Mereka menemukan bahwa dengan memerintahkan AI untuk memulai jawaban dengan kata "tunggu sebentar" dapat membuatnya lebih kritis. Namun, untuk saat ini, solusi terbaik adalah tidak menjadikan AI sebagai pengganti manusia untuk curhat atau konseling pribadi.
"Saya pikir Anda tidak boleh menggunakan AI sebagai pengganti manusia untuk hal-hal semacam ini. Itulah hal terbaik yang bisa dilakukan untuk saat ini," pungkas Cheng.