CARAPANDANG - Angka penumpang Transjakarta pada 2025 mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah operasionalnya dengan 413,3 juta orang, meningkat 41,6 juta dari tahun sebelumnya, dan dua kali lipat lebih dari 191 juta pengguna pada 2022.
Rata-rata hariannya menembus 1,4 juta orang pada 2025, dan lebih dari 80 persen di antaranya berasal dari kelompok Generasi Z dan Milenial.
MRT Jakarta pun mencatat pertumbuhan serupa dengan total penumpang mencapai 45,41 juta pada 2025 atau rata-rata 100 ribu penumpang per hari sepanjang tahun, melonjak dari 91 ribu per hari pada 2023.
Data-data ini kerap dikutip sebagai bukti bahwa generasi muda Indonesia kini beralih ke transportasi publik. Namun membaca tren itu tanpa menyertakan konteksnya akan menghasilkan kesimpulan yang terlalu dini. Karena Jakarta bukan Indonesia.
Lonjakan penumpang di Jakarta bukan terjadi karena kesadaran kolektif yang tiba-tiba meningkat. Di baliknya ada ekspansi rute Transjakarta yang kini melayani 233 jalur, revitalisasi 46 dari 271 halte BRT (bus rapid transit), integrasi antarmoda dengan MRT, LRT, dan operator pengumpan (feeder), serta sistem pembayaran digital yang memperpendek waktu antre. Dengan kata lain, layanannya memang diperbaiki dan terus-menerus ditingkatkan sehingga orang-orang merespons perbaikan itu.