"Oman akan berperilaku seperti negara lain, atau kami harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu," ancam Trump, menegaskan kembali bahwa selat tersebut tidak boleh menjadi zona eksklusif bagi pihak manapun.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menambahkan bahwa meskipun AS mengupayakan jalur diplomasi, operasi ofensif terhadap Iran telah dihentikan sementara untuk memberi ruang negosiasi.
Namun, Rubio menegaskan bahwa Iran tetap harus bertanggung jawab atas upaya penguasaan selat dan AS tidak akan mentolerir adanya pungutan atau kewajiban koordinasi dengan otoritas Iran bagi kapal-kapal yang melintas.
Situasi di Selat Hormuz memang menjadi pusat perhatian global karena jalur ini merupakan urat nadi distribusi energi dunia. Akibat konflik yang sempat memanas, harga minyak dunia sempat melonjak.
Namun, seiring dengan adanya harapan akan pembukaan kembali selat melalui jalur diplomasi, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) sempat anjlok lebih dari 5 persen ke level 88,68 dolar AS per barel, sementara minyak mentah Brent berada di posisi 94,29 dolar AS per barel.
Hingga saat ini, belum ada kesepakatan final yang dicapai antara Washington dan Teheran.
Trump mengklaim bahwa tekanan ekonomi dan militer telah membawa Iran ke meja perundingan, meskipun ia mengakui bahwa negosiasi masih berjalan alot dan AS belum puas dengan proposal yang diajukan Iran.