Kepada pengelola BMN, ia mengingatkan kegiatan ini bukan hanya menjaga barang-barang milik negara. "Hari ini kita tidak sedang berbicara sekadar tentang meja, tentang kursi, gedung, kendaraan, komputer atau inventaris negara. Kita sedang berbicara tentang amanah rakyat. Tentang harapan orang-orang kecil yang menitipkan masa depan anak-anaknya kepada negara," jelasnya.
Melalui Sekolah Rakyat semangat serta harapan anak-anak yang putus sekolah dan tidak bisa bersekolah tumbuh. Mereka dijemput, didampingi, dan diantarkan untuk mewujudkan cita-cita mereka.
"Setiap bangku yang ada di sekolah rakyat, setiap lembar kasur di asrama, setiap laptop yang digunakan siswa untuk belajar, setiap piring makanan yang disajikan di dapur sekolah, semuanya berasal dari uang rakyat. Ini yang harus diperhatikan," ucap Agus Jabo.
Ia menambahkan semua fasilitas tersebut berasal dari uang rakyat yang dititipkan. "Dari pajak para pendagang kecil di pasar, dari keringat buruh yang bekerja di pabrik-pabrik selama 8 jam kadang lembur, dari hasil panen petani, dari kerja keras nelayan yang berangkat sebelum matahari terbit, barang-barang yang kita urus nanti itu berasal dari pajak-pajak yang diambil dari saudara-saudara kita," urainya.
Menurutnya petugas BMN adalah penjaga kepercayaan negara. "Saudara adalah garda yang memastikan setiap barang negara benar-benar digunakan untuk kepentingan rakyat," ucap Agus Jabo.