Iran menyatakan Selat Hormuz akan ditutup sampai Amerika Serikat mencabut blokade terhadap kapal dan pelabuhan Iran, yang dinilai Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Berdasarkan laporan badan keamanan maritim perdagangan Inggris (UKMTO), sebuah kapal tanker dilaporkan ditembaki oleh dua kapal perang Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Langkah ini diambil sebagai respons atas kelanjutan blokade laut yang diberlakukan Amerika Serikat, yang dinilai Teheran sebagai pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan melalui akun media sosial X pada Jumat (17/4) bahwa akses melalui jalur air strategis tersebut sepenuhnya bergantung pada izin dari Iran.
Kebijakan ini berlaku menyusul kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari antara Israel dan Lebanon yang mulai berlaku Jumat dini hari waktu setempat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dalam pernyataannya pada Rabu (8/4/2026) menegaskan bahwa perjalanan aman melalui jalur vital energi dunia tersebut hanya dimungkinkan melalui koordinasi dengan militer Iran serta dengan mempertimbangkan keterbatasan teknis yang ada.
Berdasarkan data pelacak kapal MarineTraffic per 20-22 Maret, kapal-kapal yang tidak dapat beroperasi tersebut terdiri atas 324 kapasitas curah (bulk carriers), 315 kapal pengangkut produk minyak/kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak bumi, dan 211 kapal tanker minyak mentah.
Kebijakan ini mengubah jalur pelayaran tersibuk dunia menjadi "gerbang tol" de facto di tengah konflik berkepanjangan dengan Amerika Serikat dan Israel.
Di tengah konflik berkecamuk dan ancaman keamanan yang tinggi, selat tersebut tidak sepenuhnya tertutup, melainkan beroperasi secara selektif dengan Iran sebagai aktor kunci yang mengendalikan aksesnya.
Motegi menyatakan keprihatinan mendalam atas situasi terkini di mana sejumlah kapal yang terkait dengan Jepang dilaporkan terjebak di Teluk Persia akibat eskalasi konflik.