CARAPANDANG.COM- Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Subspesialis Pencegahan dan Rehabilitasi Kardiovaskular Rumah Sakit Universitas Indonesia (RS UI) dr. dr. Hary Sakti Muliawan, Ph.D., Sp.JP, Subsp.PRKv.(K) mengatakan bahwa aktivitas hiking atau mendaki di dataran tinggi bisa berpotensi menyebabkan hipertensi paru pada pasien yang berisiko.
“Ini agak unik sih, atlet atau orang-orang yang suka hiking, ke pegunungan itu saturasi oksigennya rendah dan itu kadang-kadang bisa mencetuskan hipertensi paru,” ujar dokter Hary dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta, Kamis.
Ia menambahkan bahwa kondisi udara dengan oksigen rendah bisa menyebabkan peningkatan tekanan paru yang membuat jantung kanan bekerja ekstra memompa darah ke paru-paru.
Namun demikian, hipertensi paru tak begitu saja dialami secara umum bagi individu yang gemar hiking, pasien yang berisiko yakni dengan kondisi penyakit jantung bawaan, penyakit autoimun seperti lupus, gangguan pada paru seperti TBC serta asma hingga ibu hamil lebih berpotensi mengalami hipertensi paru.
Pasien berisiko dapat mengalami hipertensi paru dengan gejala seperti sesak napas usai beraktivitas ringan seperti biasa, kelelahan, bengkak usai melakukan pendakian, ia pun menyarankan agar kondisi yang dianggap tak biasa ini sebaiknya tidak diabaikan dan segera melakukan konsultasi ke dokter spesialis jantung dan spesialis paru untuk memastikan kondisi sehingga mendapatkan perawatan yang tepat.