Beranda Internasional Akibat Konflik Timur Tengah, China Menjadi Primadona Baru Rute Transit ke Eropa

Akibat Konflik Timur Tengah, China Menjadi Primadona Baru Rute Transit ke Eropa

Dalam sepekan terakhir, China muncul sebagai hub transit alternatif utama bagi pelancong dari Asia dan Australia yang hendak terbang ke Eropa, seiring dengan lumpuhnya maskapai-maskapai Teluk.

0
Ilustrasi

· Rute Beijing-London: Air China hanya menyediakan tiket kelas bisnis untuk keberangkatan dekat, dengan tarif satu arah mencapai 50.490 yuan (sekitar Rp 112 juta), jauh di atas tiket ekonomi pulang-pergi yang biasanya di bawah 10.000 yuan.

Selain permintaan yang membeludak, kenaikan harga juga didorong oleh membengkaknya biaya operasional maskapai.

Penerbangan harus mengambil rute memutar yang lebih panjang, yang berarti konsumsi bahan bakar melonjak drastis.

Sebagai gambaran, penerbangan Hong Kong-Paris milik Air France terpaksa terbang ekstra sejauh 6.221 kilometer.

Kondisi ini diperparah dengan melonjaknya harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di kawasan penghasil minyak.

Ketua Asosiasi Maskapai Asia Pasifik, Subhas Menon, memperingatkan bahwa gangguan ini berdampak jangka panjang pada konektivitas dan profitabilitas maskapai.

"Saat ini, seluruh kawasan Timur Tengah tidak boleh dilewati, yang berarti biaya mahal bagi beberapa maskapai. Jika Eropa hanya dapat dilayani dengan biaya tinggi, profitabilitas maskapai akan terpengaruh. Pada akhirnya, harga yang harus dibayar adalah konektivitas," jelasnya.

Meskipun maskapai seperti Turkish Airlines dan Singapore Airlines juga menjadi alternatif, tekanan terbesar saat ini tertuju pada rute-rute yang memanfaatkan hub di China dan Asia Tenggara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here