Mantan Wakil Presiden Kamala Harris mengecam keras langkah Trump, menyebut serangan ini sebagai "perjudian berbahaya dan tidak perlu dengan nyawa Amerika" yang justru membahayakan stabilitas kawasan. Ia juga mengkritik janji kampanye Trump untuk tidak memulai perang baru sebagai kebohongan.
Di tengah kontroversi ini, Trump justru mengklaim bahwa struktur komando militer Iran telah runtuh dan para pejabat Iran menghubungi dalam jumlah ribuan untuk meminta kekebalan.
Ia kembali menyerukan rakyat Iran untuk bangkit dan mengambil alih pemerintahan setelah operasi militer AS berakhir.
Namun, klaim tersebut diragukan mengingat Iran terus melancarkan serangan balasan.
Teheran mengonfirmasi tewasnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara tersebut dan berjanji akan membalas.
Juru bicara kepresidenan Iran menyatakan bahwa negaranya memiliki hak penuh untuk membela diri.
Survei Reuters/Ipsos yang dirilis akhir pekan lalu menunjukkan bahwa hanya satu dari empat warga Amerika yang menyetujui serangan tersebut.
Sekitar separuh responden, termasuk satu dari empat responden Partai Republik, merasa presiden terlalu siap menggunakan kekuatan militer.
Dengan tiga personel militer AS dilaporkan tewas dan puluhan warga sipil Iran menjadi korban, era baru kebijakan luar negeri Trump ini kini diuji di tengah ketidakpastian politik domestik dan eskalasi konflik di Timur Tengah yang meluas hingga ke Teluk.