Untuk mendukung percepatan itu, Mahyeldi mendorong optimalisasi seluruh potensi daerah, termasuk pemanfaatan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) dan dukungan Baznas sebagai pelengkap pembiayaan di luar APBD dan pemerintah pusat.
“Kita harus membangun kolaborasi. Perusahaan dapat berkontribusi melalui CSR, Baznas juga bisa disinergikan. Yang kita kejar adalah percepatan agar masyarakat memperoleh layanan deteksi dini sedini mungkin,” tegasnya.
Mahyeldi juga mengungkapkan bahwa Sumbar saat ini didukung 78 rumah sakit, sekitar 250 puskesmas, lebih dari 9.000 tenaga perawat, serta 1.035 dokter. Menurutnya, potensi tersebut harus dioptimalkan untuk memperluas cakupan layanan skrining kanker di seluruh daerah.
Selain itu, ia meminta Dinas Kesehatan Provinsi Sumbar menyiapkan langkah-langkah penguatan regulasi guna mendukung gerakan deteksi dini kanker, mulai dari penerbitan surat edaran hingga penyusunan kebijakan yang lebih kuat apabila diperlukan.
“Saya melihat semangat semua pihak sudah sama. Tinggal bagaimana kita mempercepat langkah nyata agar deteksi dini benar-benar menjadi gerakan bersama di Sumatera Barat,” ucapnya.
Direktur Utama RSUP Dr. M. Djamil Padang, Dr. dr. Dovy Djanas, Sp.OG, KFM, MARS, FISQua mengatakan simposium tersebut menjadi bentuk sinergi berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pencegahan, deteksi dini, pengobatan, hingga pendampingan bagi pasien dan penyintas kanker.