CARAPANDANG - Masa remaja merupakan fase ketika anak mulai mencari jati diri, belajar mengambil keputusan, sekaligus menginginkan kebebasan yang lebih besar. Pada periode ini, banyak orangtua merasa komunikasi menjadi lebih sulit dibandingkan saat anak masih kecil. Percakapan yang sebelumnya terasa hangat dapat berubah menjadi singkat, penuh perdebatan, atau bahkan diakhiri dengan sikap diam karena anak merasa tidak dipahami.
Padahal, kualitas komunikasi antara orangtua dan anak remaja memiliki peran penting. Komunikasi yang penuh empati dan saling menghargai dapat membantu anak merasa aman untuk berbagi cerita, termasuk ketika menghadapi masalah yang sensitif.
1. Dengarkan lebih banyak daripada memberi nasihat
Banyak orangtua memiliki niat baik ketika langsung memberikan solusi setiap kali anak bercerita. Namun bagi remaja, didengarkan sering kali lebih penting daripada segera diberi nasihat. Saat orangtua memotong pembicaraan atau langsung menyimpulkan masalah, anak bisa merasa pendapatnya tidak dianggap. Akibatnya, mereka memilih menyimpan cerita sendiri atau mencari tempat curhat di luar rumah.
Menjadi pendengar yang aktif berarti memberikan perhatian penuh ketika anak berbicara. Tatap matanya, hindari sibuk memainkan ponsel, dan beri respons sederhana seperti mengangguk atau mengulang inti perkataannya. Cara ini menunjukkan bahwa orangtua benar-benar berusaha memahami sudut pandang anak sebelum memberikan tanggapan.