Hindari langsung mengubah setiap cerita menjadi ceramah atau kritik. Kalau setiap percakapan selalu diakhiri dengan nasihat panjang, anak bisa memilih untuk berhenti bercerita. Jadilah pendengar yang baik sebelum memberikan pendapat. Saat anak merasa didengarkan, mereka akan lebih terbuka menceritakan berbagai pengalaman, termasuk ketika sedang menghadapi masalah.
2. Kenali guru dan lingkungan sekolah anak
Orang tua gak harus datang ke sekolah setiap minggu untuk mengetahui perkembangan anak. Mengenal wali kelas, guru BK, atau beberapa guru mata pelajaran sudah menjadi langkah yang sangat membantu. Hubungan yang baik antara orang tua dan sekolah memudahkan komunikasi jika sewaktu-waktu muncul perubahan perilaku atau masalah yang perlu diperhatikan.
Selain itu, luangkan waktu mengenal lingkungan sekolah anak. Ketahui jadwal kegiatan, aturan sekolah, hingga aktivitas ekstrakurikuler yang diikuti. Semakin banyak informasi yang dimiliki, semakin mudah pula orang tua memahami rutinitas anak. Pengawasan pun terasa lebih alami karena didasarkan pada pemahaman, bukan sekadar rasa curiga.