Beranda Edukasi "Child Grooming" Ancaman Tersembunyi yang Mengintai Anak di Era Digital

"Child Grooming" Ancaman Tersembunyi yang Mengintai Anak di Era Digital

Menurut UNICEF, child grooming adalah proses di mana pelaku membangun hubungan emosional dengan anak secara perlahan untuk mendapatkan kepercayaan, sebelum akhirnya melakukan eksploitasi seksual, baik secara daring maupun luring.

0
Ilustrasi

CARAPANDANG - Praktik child grooming atau upaya manipulasi anak oleh orang dewasa untuk tujuan eksploitasi seksual menjadi ancaman serius di era digital. Kejahatan ini kerap terjadi secara tersembunyi, bertahap, dan sulit terdeteksi, terutama melalui media sosial, gim daring, dan aplikasi percakapan.

Menurut UNICEF, child grooming adalah proses di mana pelaku membangun hubungan emosional dengan anak secara perlahan untuk mendapatkan kepercayaan, sebelum akhirnya melakukan eksploitasi seksual, baik secara daring maupun luring. Korban umumnya tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.

Laporan National Center for Missing & Exploited Children (NCMEC) menyebutkan bahwa pelaku grooming biasanya memulai pendekatan dengan bersikap ramah, memberikan pujian, hadiah virtual, atau perhatian berlebih. Setelah kepercayaan terbentuk, pelaku mulai mengisolasi anak dari orang tua atau lingkungan terdekat, lalu perlahan memperkenalkan konten seksual.

“Grooming jarang dilakukan dengan paksaan di awal. Pelaku memanfaatkan kebutuhan emosional anak seperti rasa diterima, perhatian, dan validasi,” ungkap Dr. Michael Seto, psikolog forensik dan peneliti kejahatan seksual anak yang kerap bekerja sama dengan lembaga penegak hukum internasional.

Data Interpol dan FBI menunjukkan peningkatan signifikan kasus eksploitasi seksual anak secara daring sejak pandemi COVID-19. Aktivitas anak yang meningkat di internet tanpa pengawasan memadai menjadi celah bagi pelaku.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here