Selain meningkatkan risiko malnutrisi dan stunting, El Nino juga disebut berpotensi memicu lonjakan berbagai penyakit pada anak, seperti diare, pneumonia, demam berdarah dengue (DBD), hingga malaria.
Darmawan mengatakan kekeringan berkepanjangan dapat menurunkan kualitas sanitasi dan mencemari sumber air bersih sehingga meningkatkan risiko penyakit bawaan air.
“Di Indonesia, seperti juga sebenarnya di berbagai negara berkembang lainnya, diare ini merupakan dua penyebab utama kematian pada balita bersama dengan pneumonia,” ujarnya.
Ia juga menyoroti dampak polusi udara akibat kebakaran hutan selama musim kemarau panjang. Menurut dia, partikel polutan berukuran sangat halus PM2.5 dapat menembus saluran pernapasan hingga masuk ke aliran darah dan merusak berbagai organ tubuh.
“Pada anak-anak di bawah 5 tahun, paru-paru masih dalam fase tumbuh-kembang, lebih rentan terhadap kerusakan permanen,” katanya.
Darmawan mendorong pemerintah memperkuat mitigasi dampak El Nino melalui penguatan layanan kesehatan, ketahanan pangan, akses air bersih, serta sistem kesiapsiagaan menghadapi lonjakan kasus penyakit pada anak.