Meski demikian, para peneliti menekankan bahwa risiko mikroplastik dari ikan kecil perlu dilihat dalam konteks total gizi dan manfaat kesehatannya. Ikan kecil tetap merupakan sumber omega-3, kalsium, dan protein yang baik, sehingga pendekatan terbaik adalah moderasi, bukan eliminasi total.
10. Makanan laut olahan (surimi, bakso ikan, fish cake)
Makanan laut olahan seperti surimi, bakso ikan, atau fish cake melalui proses mekanis dan industri yang panjang, mulai dari pencucian, penggilingan, pencampuran, hingga pengemasan. Setiap tahap ini membuka peluang tambahan untuk kontaminasi mikroplastik, baik dari air proses, peralatan, maupun kemasan plastik.
Sebuah studi melaporkan bahwa produk makanan olahan cenderung mengandung lebih banyak mikroplastik dibanding bahan mentahnya. Bukan karena sumber biologisnya saja, tetapi karena kontak berulang dengan permukaan dan material berbasis plastik selama produksi.
Ini menjelaskan mengapa paparan mikroplastik tidak hanya bergantung pada jenis bahan pangan, tetapi juga pada tingkat pemrosesannya. Makin panjang rantai pengolahan, makin besar potensi akumulasi partikel plastik mikro.
11. Daging dan unggas (ayam, sapi, babi)
Studi terbaru juga mendeteksi mikroplastik dalam daging dan unggas, yang diduga berasal dari pakan ternak, air minum, serta kontaminasi selama proses pemotongan dan pengemasan.