Konflik modern sekarang ini cenderung tidak lagi tunduk sepenuhnya pada aturan. Aktor non-negara, milisi, dan kepentingan tersembunyi membuat garis antara kawan dan lawan menjadi kabur. Tidak semua pihak merasa terikat pada hukum internasional. Bahkan, ada yang justru mengabaikannya secara terang-terangan. Situasi seperti ini membuat medan konflik kian tidak terprediksi.
Dalam situasi seperti itu, pasukan penjaga perdamaian sering kali berada di posisi paling rentan. Mereka netral, tapi justru karena itu, mereka malah mudah menjadi sasaran. Mereka tidak datang untuk menyerang, tapi tetap bisa diserang. Dan ini merupakan ironi yang terus berulang dalam banyak konflik.
Kepentingan dan kekuatan
Pakar hubungan internasional Hans Morgenthau, pernah menyatakan bahwa politik internasional pada dasarnya adalah soal kekuasaan. Dalam kacamata Morgenthau, moralitas penting, tapi itu tidak cukup. Pasalnya, negara tetap bergerak berdasarkan kepentingan dan kekuatan.
Pandangan Morgenthau tersebut tampaknya relevan di tengah situasi dunia sekarang ini. Faktanya, dalam banyak kasus, yang didengar bukan yang paling benar, tapi yang paling kuat. Realitas ini sering kali tidak nyaman untuk diakui. Tapi, mengabaikannya justru bisa membuat kita lengah.