“Seandainya aku tahu bahwa Allah menerima dariku satu sujud saja dan sedekah satu dirham, maka tidak ada sesuatu yang lebih aku cintai daripada kematian.” Beliau kemudian membacakan ayat tadi: “Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.”
Pelajaran besar bagi kita hari ini: Kita seringkali terlalu percaya diri (overconfident) bahwa puasa kita pasti diterima, shalat tarawih kita pasti berpahala, dan zakat kita pasti menggugurkan dosa. Padahal, tumpuan amal kita bukanlah pada seberapa keras kita memforsir tubuh, melainkan pada keikhlasan hati.
Mari kita berkaca pada kualitas spiritual para pendahulu kita. Mereka bukan sekadar “beramal”, tapi mereka “menjaga amal”. Ibnu Dinar berkata: “Rasa takut bahwa amal tidak diterima itu jauh lebih berat daripada beban melakukan amal itu sendiri.”
Hasan al-Bashri juga memberikan perumpamaan yang indah. Beliau menyebut Ramadhan sebagai midmar atau arena pacu. Di arena ini, satu kaum berpacu dengan ketaatan lalu mereka menang (fazu), sementara kaum lain tertinggal karena kelalaian lalu mereka merugi (khabu). Maka sungguh ajaib jika ada orang yang masih bermain-main di hari penentuan pengumuman kemenangan ini.
Ingatlah seruan Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra. di penghujung Ramadhan yang menggetarkan jiwa: “Duhai, andai aku tahu siapa yang diterima agar aku bisa memberi selamat, dan siapa yang ditolak agar aku bisa memberi belasungkawa!”