Beranda Inspirasi Intisari Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual

Intisari Idul Fitri 1447 H : Deklarasi Kemenangan Hati di Tengah Riuhnya Kesalehan Visual

Ditengah tren “kesalehan lahiriah”, hati nurani kita mengingatkan bahwa standar kemuliaan di sisi Allah adalah ketulusan hati yang membuahkan transformasi perilaku dari maksiat menuju ketaatan yang berkelanjutan

0
intisari Idul Fitri hari kemenangan yang bisa dirasakan dengan hati yang Ikhlas

Ibnu Mas’ud ra. pun setali tiga uang, beliau berkata: “Siapa di antara kita yang diterima agar kita beri selamat, dan siapa yang terhalang agar kita hibur?”. Kecemasan para sahabat ini diabadikan dalam sebait syair yang sangat menyentuh:

Setelah kita merenungkan betapa pentingnya penerimaan amal, timbul pertanyaan besar: Lantas, bagaimana tanda amalan kita diterima? Tanda paling nyata, tanda yang paling valid menurut para ulama adalah: ISTIQAMAH. Imam Ibnu Rajab menjelaskan dalam kitabnya (hal. 394):

Kembali berpuasa (Syawal) setelah Ramadhan adalah tanda diterimanya puasa Ramadhan. Karena jika Allah menerima amal seorang hamba, Allah akan memberi taufik (kemudahan) baginya untuk melakukan amal saleh setelahnya.

Ada sebuah kaidah agung dalam Islam: “Pahala kebaikan adalah kebaikan setelahnya.”. Sebaliknya, tanda ditolaknya sebuah ketaatan adalah jika ketaatan itu langsung disambung dengan maksiat. Alangkah indahnya kebaikan yang melahirkan kebaikan, dan alangkah buruknya maksiat yang dilakukan tepat setelah ketaatan.

Oleh karena itu, di hari yang fitri ini, mari kita deklarasikan diri kita untuk keluar dari zona maksiat menuju zona ketaatan. Mari kita berlindung dari kehinaan maksiat. Sebagaimana doa yang sering dipanjatkan oleh Imam Ahmad: “Ya Allah muliakan aku dengan taat kepada-Mu dan jangan hinakan aku dengan maksiat kepada Mu.“Semoga Allah menerima amal kami dan amalmu.”

  • Tags

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here