CARAPANDANG - Iran mengancam akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata sementara dengan Amerika Serikat serta menutup kembali Selat Hormuz jika serangan Israel ke Lebanon tidak segera dihentikan.
Ancaman ini muncul hanya beberapa jam setelah gencatan senjata dua minggu diumumkan, menyusul serangan udara besar-besaran Israel yang menewaskan sedikitnya 254 orang di Lebanon pada Rabu (8/4/2026).
Mengutip sumber yang mengetahui masalah ini, kantor berita semi-resmi Tasnim melaporkan bahwa Iran sedang mengkaji kemungkinan untuk mundur dari perjanjian tersebut. Teheran menganggap penghentian permusuhan di "semua front, termasuk Lebanon," sebagai bagian integral dari kesepakatan dengan Washington.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyampaikan ultimatum tegas melalui media sosial.
"Syarat-syarat gencatan senjata Iran-AS jelas dan eksplisit. Amerika harus memilih antara gencatan senjata atau perang berkelanjutan melalui Israel. AS tidak dapat memiliki keduanya," tulis Araghchi, seraya menambahkan bahwa dunia sedang menyaksikan "pembantaian" di Lebanon.
Ketegangan ini dipicu oleh serangan terkoordinasi terbesar yang dilancarkan militer Israel di Lebanon sejak konflik terbaru dimulai.
Militer Israel mengklaim telah menyerang lebih dari 100 target Hizbullah dalam waktu 10 menit, mencakup wilayah Beirut, Lembah Beqaa, dan Lebanon Selatan.
Otoritas Lebanon melaporkan korban tewas mencapai 254 orang dan lebih dari 1.165 orang terluka.