Hasil nekropsi yang dilakukan pada 1 September 2026 menunjukkan adanya perubahan patologis pada beberapa organ, terutama paru-paru, jantung, dan ginjal. Pada paru-paru ditemukan kongesti dan atelektasis parsial yang diduga kuat berkaitan dengan paparan asap, yang berpotensi mengganggu fungsi paru dan menyebabkan hipoksia akut atau kekurangan oksigen.
"Kondisi tersebut selanjutnya diduga berkontribusi terhadap gangguan fungsi kardiovaskular hingga menyebabkan kematian Sempurna," tambah Murlan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengonfirmasi hal ini dan mengimbau masyarakat untuk segera melaporkan apabila menemukan satwa liar dalam kondisi sakit, terluka, atau terdampak karhutla agar dapat segera ditindaklanjuti oleh petugas.