Menurut Menteri Amran, pengembangan bensin sawit perlu segera didorong ke tahap industrialisasi agar dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan memperkuat ketahanan energi nasional.
“Kita mulai dari industri skala kecil dulu, kalau ini berhasil, langsung kita buka skala besar. Ini adalah langkah nyata menuju ketahanan energi nasional,” tegas Amran.
Ia menambahkan kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi menjadi kunci dalam mengoptimalkan komoditas sawit sebagai sumber energi alternatif.
Sementara itu, Rektor ITS Bambang Pramujati menekankan pentingnya hilirisasi hasil riset agar dapat memberikan manfaat nyata bagi industri dan masyarakat.
“Kami mendorong agar hasil riset kampus memiliki dampak nyata. Kerja sama dengan PTPN IV PalmCo ini menjadi jembatan penting agar inovasi seperti bensin sawit dapat diterapkan dalam skala masif,” ucap Bambang.
Dari sisi teknis, Ketua Tim Peneliti ITS Hosta Ardhyananta menjelaskan inovasi yang dikembangkan difokuskan pada efisiensi konversi minyak sawit menjadi bahan bakar yang dapat digunakan pada mesin kendaraan saat ini.
Kerja sama PalmCo dan ITS ini direncanakan berlangsung selama lima tahun dengan pembentukan tim kerja untuk mengawal implementasi teknologi di lapangan.
Dalam pelaksanaannya, tim dari ITS bersama Kementerian Pertanian akan melakukan pendampingan untuk memastikan inovasi tersebut siap dan layak diproduksi secara massal.