Di sana, dia ditempatkan sebagai Crime Database Officer, semacam petugas yang bertugas mencatat dan mengelola seluruh data tindak pidana kriminal yang terjadi di wilayah misi.
Akar Inovasi adalah Ketika Semua Masih Dicatat Manual
Ketika tiba, Renita mendapati bahwa pendataan kasus kriminal masih dilakukan secara manual. Cara kerja seperti ini dinilai bukan cuma lambat, tapi juga rawan data hilang atau tidak akurat.
Lebih parah lagi, kepolisian lokal Afrika Tengah saat itu bahkan belum punya database kriminal sama sekali. Akibatnya, banyak pelaku kejahatan yang belum terdata dan masih bebas berkeliaran di tengah masyarakat.
Dari situ, dia mendapat tugas untuk merekam data secara digital dan menyambungkannya langsung ke markas UNPOL (United Nations Police).
Lahirnya UNPOL Case Management
Ide awal inovasi itu diilhami oleh gagasan atasannya.
"Chief Section saya mempunyai ide untuk mengotomatisasikan register tersebut ke platform yang sudah dimiliki UN," ujar Renita.
Platform bawaan PBB itu belum sempurna, sehingga tim membangun sistem baru bernama UNPOL Case Management.
Sederhananya, UNPOL Case Management adalah sistem basis data digital yang mencatat seluruh laporan kejahatan secara real time, lalu bisa langsung diolah menjadi statistik yang dibutuhkan pimpinan misi. Setelah sistem ini jalan, pekerjaan yang tadinya berhari-hari bisa selesai jauh lebih cepat.